Rabu, 05 Februari 2014

kisahku

You're my first


Ku tulis apa yang kurasa. Lincah jemari gemulai menarikan pena. Entahlah ini nyata atau hanya fiksi belaka. Yang ku tau,engkaulah alasan dibalik ini semua. *hahasiiik

Berawal disana, ya disana, aku yakin disana, aku masih ingat memang disana tempatnya. Tempat dimana sang awan bergelombang dibawah tempatku berpijak menapakkan kaki, kaki yang lemah dan lelah namun terus berjuang untuk menagih janji yang akan kau beri. Tempat dimana nyanyian burung yang indah namun kadang menakutkan menemani sentuhan dan pegangan erat jari-jemari tangan ini saat meminta kekuatan pada tebing, batu,akar, dan ranting-ranting pohon yang ada. Tempat yang membuat dada ini dipenuhi nafas yang memburu bergemuruh yang tak jemu mengucap syukur atas segala ciptaan-Mu di sela-sela melawan rasa letih tak berdaya. Ya…. Tempat ini membuat pundakmu terasa panas menahan beban, namun tak seberat beban kehidupan yang ditanggung orang-orang di luar sana.

Kala senja berselimut malam, kadang tak kan kau lihat titik-titik cahaya yang menghiasi mantel bumi ini (sebut saja dia bintang). Bukan ia pergi atau hilang entah kemana, percaya atau tidak, bintang-bintang tak lagi bertaburan diatas tempatmu berpijak, mereka ada tepat dibawah sana. Apakah langit telah berpindah ? apakah bumi ini sudah tak lagi pada tempatnya ? ataukah langit telah melanggar titah Tuhannya ? bukan, bukan begitu, langit tak pernah melanggar titah Tuhannya, karena langit tak pernah meninggalkan bintang, sama seperti aku yang tak pernah meninggalkanmu *halahgubrak
Disana, engkau harus bergelut dengan dinginnya udara yang menusuk tulang iga dan merasuk disetiap persendian, membekukan aliran darah, membuat kaku gumpalan-gumpalan lemak dalam tubuh ini (maklum gendud). Kau akan merindukan hangatnya gemerlap lampu kota, tebalnya tenunan selimut bulu domba, serta merindukan kabogohpastinya hahhaa

Alunan nada setiap hentakan langkah kaki yang terus menyusuri dinginnya kegelapan dini hari, mengejar janji dimana sang puncak telah menanti dan sang surya yang akan segera muncul untuk selalu menemani. Kini ku melangkah tak lagi diselimuti dinginnya malam, kini kukenakan jubah kehangatan sang mentari. Bersama sang awan yang membangun menara keagungan yang indah berbalut butiran embun yang terhempas angin segar  dan kawan yang selalu menyemangati dan saling menguatkan.

“Look at me now !!” dengan bangga mempersembahkan jreng jreng jreng jreng……….(ralat), dengan bangga ku berdiri di atas sana, di ketinggian 3428 mdpl, menangis haru dalam hati ini. Akhirnya kudapati janji manismu, tak ada dusta sedikitpun, kau berikan lebih dari yang aku bayangkan. Tak percuma cucuran keringat ini mengalir, tak percuma tubuh ini beku karena dingin, tak percuma tenggorokan ini kadang kering.


Terbuai aku oleh janjimu. Janjimu bagai angin surga, menyegarkan dalam kegerahan, mendamaikan dalam kebisingan, serta memberikan aroma kesejukkan. Caramu memanjakan mata ini melepaskan segala penat dan letih tubuh ini bagai obat yang sekejap menyembuhkan semua sakit (termasuk sakit hati mungkin haha), WOW mujarab sekali.

Ku hindari hati tak ingin pergi, tak ingin ku terpisah, tapi apalah daya mama sudah menunggu di rumah haha. Mt.SLAMET,  you're my first. AWESOME titik dua bintang.

Terimakasih atas semua memori yang kau beri. Terimakasih Tuhan atas segala nikmatmu, nikmat yang kadang lalai tak aku syukuri. Terimakasih sahabat-sahabat alam yang selalu menjaga semesta ini. Terimakasih terimakasih terimakasih (3 kali biar afdzol) ku ucapkan. -Salam Lestari- "RNd"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar